Surplus Perdagangan Lampung Tembus US$1,65 Miliar, Pemprov Sebut Kinerja Ekspor Masih Jadi Penopang Ekonomi

berita
02/07/2026 11:02:29
201
Surplus Perdagangan Lampung Tembus US$1,65 Miliar, Pemprov Sebut Kinerja Ekspor Masih Jadi Penopang Ekonomi

Bandar Lampung — Pemerintah Provinsi Lampung menyebut kinerja perdagangan luar negeri daerah masih menunjukkan kondisi yang positif. Hal itu tercermin dari neraca perdagangan Provinsi Lampung yang mencatat surplus sebesar US$1,65 miliar sepanjang Januari hingga Mei 2026, meskipun nilai ekspor mengalami sedikit penurunan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Kepala Dinas Komunikasi, Informatika, dan Statistik Provinsi Lampung, Ganjar Jationo, mengatakan capaian tersebut berdasarkan Berita Resmi Statistik (BRS) Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Lampung yang dirilis pada 1 Juli 2026. Data tersebut mencatat nilai ekspor Provinsi Lampung selama Januari-Mei 2026 mencapai US$2,36 miliar, sedangkan nilai impor sebesar US$715,47 juta.

"Meski nilai ekspor secara kumulatif mengalami penurunan 5,14 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu, struktur perdagangan luar negeri Lampung masih menunjukkan kinerja yang cukup baik. Hal itu terlihat dari neraca perdagangan yang tetap mencatat surplus sebesar US$1,65 miliar sepanjang Januari hingga Mei 2026. Artinya, nilai barang yang diekspor Lampung masih jauh lebih besar dibandingkan barang yang diimpor," ujar Ganjar, Kamis (2/7/2026).

Ia menjelaskan, pada Mei 2026 nilai ekspor Lampung tercatat sebesar US$477,52 juta, sedangkan nilai impor mencapai US$226,21 juta. Dengan kondisi tersebut, neraca perdagangan pada Mei 2026 kembali mencatat surplus sebesar US$251,32 juta.

Menurut Ganjar, surplus perdagangan yang terus terjaga menjadi indikator bahwa aktivitas perdagangan luar negeri Lampung masih mampu memberikan kontribusi positif terhadap perekonomian daerah. Kondisi ini juga menunjukkan bahwa produk-produk unggulan Lampung masih memiliki permintaan yang baik di pasar internasional.

Ganjar menjelaskan, sektor industri pengolahan masih menjadi penopang utama ekspor Lampung dengan kontribusi mencapai 70,10 persen dari total nilai ekspor selama Januari-Mei 2026. Sementara itu, sektor pertambangan dan sektor pertanian masing-masing menyumbang 16,35 persen dan 13,55 persen.

Dari sisi komoditas, ekspor Lampung masih didominasi oleh lemak dan minyak hewan atau nabati, yang memberikan kontribusi sebesar 43,46 persen terhadap total ekspor nonmigas. Komoditas berikutnya adalah bahan bakar mineral sebesar 16,35 persen serta kopi, teh, dan rempah-rempah sebesar 13,25 persen.

"Data ini juga menunjukkan bahwa produk-produk unggulan Lampung masih memiliki daya saing di pasar internasional. Amerika Serikat, Tiongkok, dan Belanda masih menjadi tiga negara tujuan ekspor terbesar. Di sisi lain, peningkatan ekspor ke Tiongkok menjadi sinyal positif bahwa peluang pasar ekspor Lampung masih terbuka dan perlu terus dimanfaatkan," kata Ganjar.

Berdasarkan data BPS, selama Januari-Mei 2026 nilai ekspor Lampung ke Amerika Serikat mencapai US$344,26 juta, disusul Tiongkok sebesar US$304,23 juta, dan Belanda sebesar US$224,70 juta.

Di sisi lain, Ganjar mengatakan nilai impor Lampung secara kumulatif memang mengalami penurunan sebesar 26,98 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Namun, pada Mei 2026 terjadi peningkatan impor yang terutama didorong oleh barang nonmigas, termasuk barang modal dan berbagai kebutuhan industri.

Ia menilai kondisi tersebut merupakan bagian dari dinamika aktivitas perdagangan yang wajar, terutama ketika dunia usaha membutuhkan bahan baku maupun peralatan untuk mendukung proses produksi.

"Pergerakan ekspor dan impor ini perlu dipahami sebagai bagian dari dinamika aktivitas ekonomi. Impor tidak selalu bermakna negatif karena sebagian besar juga digunakan untuk mendukung proses produksi, investasi, dan peningkatan kapasitas industri di daerah. Dengan menjaga keseimbangan antara ekspor dan impor, diharapkan aktivitas ekonomi Lampung dapat terus tumbuh dan memberikan manfaat bagi masyarakat melalui terbukanya lapangan kerja, meningkatnya nilai tambah komoditas unggulan, serta semakin kuatnya perekonomian daerah," pungkasnya.

Secara keseluruhan, data perdagangan luar negeri ini memberikan gambaran bahwa perekonomian Lampung masih memiliki fondasi yang cukup kuat. Surplus neraca perdagangan menunjukkan daerah masih mampu menghasilkan nilai ekspor yang lebih besar dibandingkan impor. Bagi masyarakat, kondisi ini diharapkan dapat mendorong tumbuhnya aktivitas usaha, memperluas peluang kerja, meningkatkan pendapatan pelaku sektor pertanian dan industri, serta memperkuat daya saing produk-produk unggulan Lampung di pasar global. (Dinas Kominfotik Provinsi Lampung).