Simulasi Penanggulangan Bencana
Telah terjadi Gempa dan Tsunami pada hari Rabu, 28/12/2016 selama 30 detik berkekuatan 7, 5 Sr. Pusat Gempa di teluk lampung disekitar pulau sebesi dengan kedalaman 10 Km yang berdampak tsunami. Dampak yang ditimbulkan ratusan korban jiwa, kerusakan insfrastruktur, tempat ibadah sekolah, rumah hilang. Untuk sementara masyarakat korban bencana di ungsikan pada daerah pengungsian diatas bukit.
Demikian skenario gladi lapangan penanggulangan bencana Gempa bumi dan Tsunami Provinsi Lampung 2016, yang dilaksanakan di Pantai Ringgung Sari, Desa Sidodadi Kecamatan Teluk Pandan, Kabupaten Pesawaran pada Rabu (28/12/2016).
Sekdaprov Lampung bertindak selaku pembina upacara mengatakan bahwa Provinsi Lampung merupakan daerah rawan bencana alam baik gempa, tsunami, angin puting beliung, tanah longsor, banjir dsb.

Luas perairan laut 24,820 km persegi atau 41,2% dari wilayah Provinsi Lampung, panjang garis pantai 1.105 km, dan 130 buah pulau kecil. Disamping itu juga Gunung anak Krakatau yang berapi dan sangat aktif.
Seluruh kawasan pantai di pesisir Lampung terdapat 48 titik rawan tsunami yang perlu diwaspadai. Karena itu masyarakat di kawasan pesisir Lampung harus tetap waspada.
"Kawasan rawan tsunami berada di Teluk Lampung, Teluk Semangka dan sepanjang pesisir barat Lampung, Mulai Pogung Tampak hingga desa enclave Belimbing," kata Bambang S, Kepala Geofisika dan Mitigasi Gempa Lampung berpusat di Kotabumi.
Sepanjang pantai barat Pulau Sumatra bagian selatan terdapat patahan Sesar Semangko yang mempunyai potensi gelombang tsunami saat gempa bumi.
Wilayah-wilayah yang mempunyai kawasan rawan tsunami, Rajabasa, Sidomulyo, Padang Cermin dan Punduh Pedada (Kabupaten Pesawaran), Cukuhbalak, kelumbayan, Kota Agung, Wonosobo, pematangsawa (kabupaten Tanggamus), Belimbing, Bengkunat, Biha, Krui, Karya Penggawa, Lemong, Pogung Tampak, Pulau Pisang dan Way Manula di Kabupaten Pesisir Barat.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPPD) Provinsi Lampung Sena Adhi Witarta, menjelaskan; saat terjadi gempa bumi, masyarakat perlu melihat tanda-tanda alam. Misalnya adanya garis melintang awan putih di angkasa, air laut di pantai tiba-tiba surut, untuk mengosongkan rumah, segera berlari ke arah bukit yang lebih tinggi.
Selanjutnya Sena menyampaikan menanam bakau di tepi pantai juga salah satu cara menghambat gelombang tsunami. Karena itu masyarakat diminta tidak membangun rumah dekat pantai, atau minimal 100 meter dari bibir pantai.
Kabid Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPPD Prov. Lampung Zulkarnain Mursid mengatakan dalam gladi tsb terlibat juga Polda Lampung, Korem 043 Gatam, Brigif-3 Marinir, Satpol PP, BPPD Prov Lampung, Lampung Selatan, Bandar Lampung, Pesawaran, PMI, kwarda lampung, Menwa, dan Masyarakat Desa Sidodadi. (Ip).