Pemprov Lampung: Inflasi Tetap Terkendali, Mei 2026 0,82 Persen, Tahunan 1,94 Persen, Pasokan Pangan Terus Dijag

berita
05/06/2026 22:21:30
529
Pemprov Lampung: Inflasi Tetap Terkendali, Mei 2026 0,82 Persen, Tahunan 1,94 Persen, Pasokan Pangan Terus Dijag

Bandar Lampung – Lampung terus memperkuat upaya pengendalian inflasi melalui koordinasi lintas sektor, penguatan distribusi pangan, serta pemantauan ketersediaan kebutuhan pokok masyarakat. Berdasarkan perkembangan Indeks Harga Konsumen (IHK) Mei 2026, inflasi di Provinsi Lampung masih berada pada level yang terkendali.

Kepala Dinas Komunikasi, Informatika dan Statistik Provinsi Lampung, Ganjar Jationo, mengatakan bahwa data tersebut bersumber dari rilis resmi Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Lampung (2/6/2026) yang menunjukkan kondisi stabilitas harga di daerah masih terjaga dengan baik. “Pemerintah Provinsi Lampung terus berkomitmen menjaga stabilitas harga melalui penguatan koordinasi Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID), pemantauan pasokan, serta kelancaran distribusi bahan pokok. Inflasi yang tetap terkendali menjadi indikator positif bagi daya beli masyarakat dan pertumbuhan ekonomi daerah,” ujar Ganjar Jationo, Jumat (5/6/2026). 

Data BPS Lampung menunjukkan bahwa pada Mei 2026 Provinsi Lampung mengalami inflasi bulanan (month-to-month/m-to-m) sebesar 0,82 persen. Sementara itu, inflasi tahunan (year-on-year/y-on-y) tercatat sebesar 1,94 persen, mencerminkan kondisi harga yang relatif stabil di tengah dinamika permintaan dan pasokan sejumlah komoditas strategis. Kelompok pengeluaran Makanan, Minuman, dan Tembakau menjadi penyumbang utama inflasi baik secara bulanan maupun tahunan. Pada Mei 2026, kelompok ini memberikan andil inflasi sebesar 0,53 persen secara bulanan dan 1,64 persen secara tahunan.

Secara bulanan, kenaikan harga sejumlah komoditas hortikultura menjadi faktor utama yang mendorong inflasi. Komoditas cabai merah memberikan andil inflasi sebesar 0,15 persen, diikuti bawang merah sebesar 0,10 persen, serta cabai rawit sebesar 0,06 persen. Fluktuasi harga komoditas tersebut dipengaruhi oleh faktor produksi dan distribusi yang terus dipantau pemerintah daerah. Menurut Ganjar, Pemprov Lampung bersama pemerintah kabupaten/kota terus melakukan langkah antisipatif untuk menjaga pasokan komoditas pangan strategis, terutama menjelang periode-periode yang berpotensi meningkatkan permintaan masyarakat. “Penguatan distribusi, operasi pasar, pemantauan stok, dan sinergi dengan berbagai pemangku kepentingan terus dilakukan agar pasokan tetap tersedia dan harga kebutuhan pokok dapat terkendali,” tambahnya.

Sementara itu, secara tahunan, inflasi terutama dipengaruhi oleh kenaikan harga emas perhiasan yang memberikan andil sebesar 0,45 persen, disusul daging ayam ras sebesar 0,23 persen, dan beras sebesar 0,20 persen. Ketiga komoditas tersebut menjadi kontributor utama pembentukan inflasi tahunan di Provinsi Lampung. Di sisi lain, terdapat beberapa komponen yang membantu menahan laju inflasi. Kelompok Pendidikan tercatat memberikan andil deflasi secara tahunan. Penurunan biaya Sekolah Menengah Atas (SMA) memberikan andil deflasi sebesar 0,84 persen, sedangkan biaya Sekolah Menengah Pertama (SMP) menyumbang deflasi sebesar 0,39 persen. Kondisi ini turut membantu menjaga inflasi tetap berada dalam kisaran yang terkendali.

Berdasarkan wilayah cakupan IHK di Provinsi Lampung, Kabupaten Mesuji mencatatkan inflasi tahunan tertinggi sebesar 2,82 persen. Sementara itu, Kota Bandar Lampung mencatatkan inflasi tahunan terendah sebesar 1,79 persen. Perbedaan laju inflasi antarwilayah dipengaruhi oleh karakteristik konsumsi masyarakat, distribusi barang, serta perkembangan harga komoditas di masing-masing daerah. Dengan inflasi tahunan yang masih berada pada level terkendali, Pemprov Lampung optimistis stabilitas ekonomi daerah dapat terus terjaga sekaligus mendukung iklim usaha yang sehat dan berkelanjutan di Provinsi Lampung.(Dinas Kominfotik Provinsi Lampung)