Taman Nasional Way Kambas, Pesona Gajah Sumatera di Alam Lampung

Image
18 Juli 2017

Siapa yang tak mengenal Lampung tanpa gajah Way Kambasnya? Juga pernak-pernik gajah yang menghiasi beberapa hotel sebagai ciri khas kota Lampung? Kini, selain ikon gajah, menara Siger yang gagah menjulang dan terlihat dari Pelabuhan Bakauheni menjadi ikon Provinsi Lampung lainnya. Walau demikian, pesona taman nasional ini tetap menarik wisatawan domestik mau pun mancanegara.

Oleh: Tim liputan www.traveloka.com

Way Kambas yang berada di samping Sungai Way Kambas, termasuk dalam Kecamatan Labuhan Ratu, Lampung Timur dan menjadi tempat konservasi gajah Sumatera yang mulai langka di habitat aslinya, hutan Sumatera. Taman Nasional Way Kambas menjadi salah satu pusat pelatihan gajah di Sumatera yang kini berubah fungsi menjadi pusat konservasi gajah dengan luas area mencapai 1.300 km persegi.

Taman inididirikanpada 1937 oleh Belanda dan pusat pelatihannya sendiri diresmikan pada 1985. Dengan area yang dibuat alami seperti hutan, setelah melewati pintu gerbang wisatawan akan disambut dengan hewan-hewan, seperti monyet dan babi hutan yang berkeliaran bebas.

Selain gajah, fauna yang hampir punah juga dikembangbiakkan di sini, seperti badak Sumatera, harimau Sumatera, dan buaya sepit di area khusus. Jika beruntung, wisatawan dapat menyaksikan bangau tongtong bertengger di atas dahan ataubeberapa burung yang menjadikan taman ini sebagai rumahnya.

Bentang alam berupa dataran rendah dengan rerumputan tinggi dan beberapa pohon menjadikan taman ini tempat bermain yang aman untuk gajah-gajah yang telah dijinakkan. Beberapa gajah liar yang menjadi korban perburuan gading atau terkena perangkap warga, diselamatkan di taman nasional ini.

Gajah-gajah yang sudah dijinakkan, biasanya disertakan dalam atraksi, seperti menunggang gajah untuk mengelilingi sebagian area taman dan sepak bola gajah. Setiap gajah memiliki pawang pribadi yang mengurus segala keperluan mereka mulai dari memberi pakan khusus, seper tirotan, rumput dan ilalang yang tersedia melimpah di area taman nasional. Selain itu, pada malam hari gajah-gajah akan dimasukkan kekandang khusus untuk mencegah gajah keluar dari taman. Di area ini, disediakan kolam minum dan rumput untuk pakan di malam hari.

Rumah sakit gajah juga tersedia di sini. Rumah sakit gajah akan memberi pertolongan pertama bagi mamalia darat terbesar ini. Selain itu, terdapat juga area karantina berupa tiang-tiang untuk merantai gajah jantan yang sedang mengalami masa birahi karena gajah-gajah ini dapat bertindak agresif, bahkan kepada pawangnya sendiri.

Masa birahi ini ditandai dengan keluarnya cairan emas dari sisi sebelah telinga. Pada masa birahi ini, gajah jantan sangat mudah terprovokasi oleh keberadaan gajah jantan lainnya, walau pun gajah tersebut masih kecil. Gajah jantan bertindak sangat agresif jika melihat gajah betina, sehingga para pawang akan segera merantai gajah-gajah jantan ini agar tidak melukai manusia atau pun gajah lainnya. Beberapa pawang yang terlambat menyadari ini menjadi korban sang gajah jantan, seperti jatuh dari gajah atau pun ditendang gajah.

Pelatihan dan penjinak kan gajah di taman ini dimaksud kan agar gajah dapat berinteraksi dengan manusia dan memberikan manfaat dari tenaganya yang besar. Beberapa gajah membantu dalam pengangkutan, membajak sawah atau pun sebagai gajah tunggang. Namun, semuanya dalam pengawasan petugas taman nasional dan tidak sesuai dengan sifat alami gajah.

Wisatawan dapat mengikuti sesi tur gajah dengan menunggang gajah mengelilingi area rawa dan padang ilalang di taman ini. Gajah-gajah yang telah terlatih ini mengikuti instruksi dari pawangnya untuk berjalan, berhenti, dan memutar sambil belalalainya tak henti-hentinya mencabut dan ilalang atau rumput yang dilewatinya.

Hal ini tidak mengherankan karena gajah membutuhkan pakan hingga 136 kg per harinya, berupa rumput, ilalang, akar-akaran, kulit pohon, dan buah. Sementara itu, kebutuhan airnya mencapai 180 liter air per hari, sehingga tak aneh jika kelompok gajah sangat senang berlama-lama di rawa atau sumber air.

Mamalia yang mampu mencapai berat dua hingga lima ton ini pun dikenal sebagai hewan yang cerdas, sehingga mampu mengenali kawan an gajah dari jejak langkahnya. Selain itu, hukum rimba juga berlaku di kawanan gajah. Oleh karena itu, penting bagi gajah jantan untuk menunjukkan kekuatannya kepada gajah jantan lainnya. Para pawang akan menjauhkan gajah jantan yang agresif dari gajah lainnya agar tidak terjadi pertarungan.

Begitu juga halnya pada saat penjinakkan gajah. Sang pawang akan menunjukkan kekuatannya dengan memberikan instruksi-instruksi karena gajah sangat sensitif. Sesekali pawang akan memukul dengan tongkat khusus untuk menunduk kan gajah yang mulai melawan.

Selain tur gajah, atraksi sepak bola gajah memberikan decak kagum wisatawan yang berkunjung. Sebagai informasi, Taman Nasional Way Kambas merupakan tempat pertama yang mengadakan atraksi sepak bola gajah. Selain permainan bola yang melibatkan beberapa ekor gajah, atraksi lainnya adalah gajah-gajah jinak yang menunjuk kan kebolehannya duduk, berdiri, bahkan berjalan di antara orang-orang yang berbaring.

Penjinak kan gajah ini tidak sama seperti di sirkus yang terkadang menghukum berat gajah jika tidak mau beratraksi. Gajah-gajah di taman nasional ini dijinakkan untuk kepentingan berinteraksi dengan manusia, sehingga tidak merusak lahan pemukiman dan menyerang manusia. Di taman ini, gajah dapat hidupnya mandan damai dengan sumber makanan yang berlimpah seperti berada di habitat aslinya.

Saat yang tepat untuk mengamati satwa dengan ingatan yang kuat ini adalah di pagi hari pukul 6 atau 7 pagi dan sore hari pukul 3 atau 4 sore, di mana waktu tersebut adalah waktu mandi gajah. Kawanan gajah dengan pawang masing-masing menikmati waktu mandi dengan sesekali menyemprotkan air kegajah lainnya. Bahkan, terkadang pawang tersebut yang menginstruksikan gajah nya untuk menjahili pawang lainnya.

Wisatawan dapat menginap di resor yang nyaman yang ada di dalam Taman Nasional Way Kambas. Dengan kapasitas 4 orang per kamar dan fasilitas lengkap, memberikan keleluasaan waktu untuk mengamati aktivitas gajah di tempat ini. Untuk yang berjiwa backpacker, Anda dapat berkemah di area kemping Way Kanan yang disediakan untuk umum. Suasana taman nasional akan memberikan pengalaman berbeda berada di alam terbuka.

Lokasi Taman Nasional cukup strategis karena berada di lintas timur Sumatera, sehingga ramai dikunjungi pada saat musim liburan atau akhir pekan. Kini, pemerintah Lampung juga menyediakan armada Damri yang melayani rute Bandar Lampung–Way Kambas pulang dan pergi yang memudahkan transportasi ke taman ini. Selain itu, bagi yang menyewa kendaraan, bisa menempuh waktu perjalanan kurang lebih 2 jam dari Kota Bandar Lampung.

Dengan harga tiket hanya Rp4.000 per orang dan Rp10.000 per kendaraan, taman ini menjadi tujuan favorit wisata keluarga. Tersedia lapangan yang cukup luas dan teduh untuk keluarga bercengkrama sambil mengamati gajah.

Sedangkan untuk tur gajah, wisatawan dikenakan tiket seharga Rp150.000 per orang, di mana pawang akan mengajak wisatawan berkeliling taman selama kurang lebih satu jam sambil mendengarkan penjelasan menarik mengenai kehidupan gajah di taman ini.

Sebagai pusat konservasi gajah, bukan lagi sebagai pusat latihan gajah, Taman Nasional Way Kambas telah melatih dan menyelamatkan kurang lebih 200 ekor gajah agar mendapatkan rumah baru yang nyaman tanpa khawatir diburu manusia, mengingat populasi gajah Sumatera semakin langka. Selain itu, gajah-gajah ini hidup berdampingan dengan hewan lainnya seperti habitat aslinya di hutan-hutan Sumatera yang kini telah banyak yang beralih fungsi menjadi lahan perkebunan industri.

 (Tim Liputan www.traveloka.com)

Bagikan

Berita Terbaru

Post

KARS Nilai Gubernur…

20 November 2017
Post

Tampilkan Tarian Lampung,…

20 November 2017
Post

HUT ke-46 Korpri,…

20 November 2017
Post

Gubernur Ridho Raih…

19 November 2017

Kurs Dolar