SMK PP Lampung: "Kami Namakan Gedung Belajar ini M. Ridho Ficardo"

Image
09 Agustus 2017

"Kalau tak ada siswa lalu lalang, tempat ini lebih layak disebut 'kapal pecah', bukan sekolah. Semua serba darurat. Sebagian siswa belajar di emperan kelas dan gedung tua yang dibangun di zaman kuda gigit besi. Tak ada ruang kepala sekolah, karena dipakai untuk tempat tidur siswa.

Ruang guru dan tata usaha pun tumplek jadi satu di ruang yang dibangun era 70-an. Lapangan upacara becek jika hujan. "Tak lama lagi bangunan ini akan kami rubuhkan dan jadi lahan parkir. Kami pindah ke ruang baru yang masih dibangun," kata Amrullah, Kepala Sekolah Menengah Kejuruan Pertanian Pembangunan (SMK PP) Lampung, Hajimena, Natar, Lampung Selatan, Jumat (4/8/2017).

Ini satu-satunya SMK Pertanian milik Pemerintah Provinsi Lampung dan tengah bangkit dari tidur panjang. Darah baru mengalir ketika Gubernur Lampung Muhammad Ridho Ficardo, memutuskannya pindah dari Masgar, Pesawaran, ke Hajimena.

Gubernur Ridho menilai SMK harus bangkit dari mati suri. Bagaimana mungkin sekolah hanya punya siswa 58 hingga 59 per angkatan. Gubernur meminta Asisten II Sekprov Adeham dan Sekretariat Badan Koordinasi Penyuluhan (Bakorluh) merancang masterplan dan detail enggineering design (DED) untuk diusulkan ke pusat.

Keputusan penting pun dibuat pada 2015. Sebelum bantuan pusat turun, Gubernur meminta SMK PP Lampung 'pulang kandang' ke lokasi yang sekarang dikenal dengan Badan Diklat Provinsi Lampung. Di lokasi inilah dulu pernah berjaya Sekolah Pertanian Menengah Atas (SPMA) Daerah Provinsi Lampung yang didirikan pada 1 Agustus 1965. Ini sekolah yang banyak menghasilkan puluhan ribu tenaga kerja pertanian handal seperti Guru Besar Pertanian Universitas Lampung Irwan Efendi.

Tak sekedar pindah. Gubernur meminta honor guru yang semula Rp200 ribu per bulan dinaikkan setara upah minimum provinsi (UMP). Suntikan itu membuat SMK PP Lampung bangkit dari tidur panjang.